Yang sejati yang tidak terlihat

Baru saja kami menyelesaikan sebuah kegiatan rutin tahunan di sebuah Fotang. Kami bergembira mampu menuntaskannya dengan melalui berbagai hambatan. Yang akhirnya bisa diselesaikan dengan sejumlah foto di media sosial.

Saat terpaku melihat ramainya suasana saat itu pandangan saya tertuju pada tiga buah papandi atas altar. Ingatan pun melayang ke empat tahun lalu di ruang ini. Saya ingat ketika paket tulisan itu datang (mereka terdiri dari sejumlah huruf kanji yang di tempel di media papan) ada seorang pria yang memeriksanya. Dengan tekun ia merangkai huruf demi huruf di atas papan itu. Saya pun tidak tau namanya, yang saya ingat ia datang dari Taiwan khusus untuk menyelesaikan itu.

Tulisan-tulisan itulah yang pertama selesai di Fotang, diantara semua persiapan yang kami lakukan. Karena esok harinya saat kami datang ketiga papan itu sudah terpasang rapi dan terlihat begitu megah di mata kami. Dan saat peresmian Fotang yang sangat meriah bagi kami diramaikan dengan tarian, nyanyian, dan makan bersama. Kami teringat dengan pria itu dan kami menanyakan pada seorang sahabat. Sahabat menjawab: “ia sudah pulang ke Taiwan”. Kami hanya bisa terdiam, saat kami sibuk bergembira makan bersama menikmati “kesuksesan kami” orang yang sumbangsihnya terpampang di depan mata kami tidak ikut menikmati apa yang kami rayakan.

Kami jadi teringat sebuah kalimat “yang sejati tidak terlihat, yang terlihat tidak sejati”, memang mata adalah penjahat sejati yang sering menyesatkan kita. Inilah Tao

Please follow and like us:
error20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *