Bayi yang terbuang

Hari ini ada bebarapa postingan di media sosial tentang bayi yang dibuang orang tuannya. Sudah dipastikan pelbagai komentar mengiringi dan bisa dipastikan semua memojokkan ibu si bayi. Entah ada yang bilang hewan saja sayang anak, bawa sini saja kalau tidak mampu merawat dan sebagainya. Seakan-akan mereka sudah menjadi malaikat atau mendadak seperti itu demi eksis di media sosial kita tidak pernah tau, atau masih terbakar kemarahan karena sehari sebelumnya ada berita bayi yang dimasukkan ke lemari pendingin oleh ibunya.

Mungkin mereka lupa bahwa mereka masih memberikan mie instan tiap hari kepada anaknya atau makanan tidak sehat lainnya, memberi tontonan televisi tentang kebencian, perebutan harta, wanita dan tahta, bahkan menunjukan pertengkarannya sendiri di depan anak-anaknya.

Ya kita seakan-akan kita lupa bahwa kita masih belum cukup baik menjadi ibu atau ayah bagi anak kita di dunia nyata dan berkoar-koar bagai malaikat di dunia maya. Sadarkah kita bahwa pelaku pembuangan bayi itu melakukannya karena kita juga? Iya kita sebagai masyarakat membuat dunia yang tidak adil bagi orang tua dan bayi tersebut.

Kok bisa? Iya ingatkah kita ketika kita mencibir, bergosip tentang anak gadis tetangga yang hamil diluar nikah, tentang ibu yang membesarkan anaknya sendiri, tentang pasangan selingkuh, atau wanita simpanan. Hal ini banyak kita lakukan bukan karena alasan moral, saya lebih melihat karena badan kita “bergelambir” dan mereka tidak. Kita sekarang menjadi “polisi moral” pada hal-hal yang di luar kemampuan kita, tanpa mau tau lebih jauh apa sebenarnya terjadi. Pada kasus seperti ini para wanitalah yang paling sering disalahkan

Apakah kita pernah berfikir bahwa gadis yang membuang bayi itu melakukannya karena ia hamil karena diperkosa?

Atau karena rumah tangga orang tuanya berantakan sehingga pergaulan bebas yang membuat dia merasa diakui.

Atau seorang istri yang tidak kuat disiksa suaminya hingga harus bercerai tanpa mampu membesarkan anak.

Malu pada lingkungan yang mencibir membuat mereka melakukan apasaja demi tetap diterima lingkungannya.

Seandainya saja kita bisa sisihkan anggaran kuota internet kita untuk membelikan makanan tetangga yang kurang mampu daripada foto dan video makanan agar “kekinian” di media sosial tanpa peduli sebelah rumah belum makan. Atau gunakan kuota internet untuk mensupport lingkunan baik dalam usaha ataupun teman bicara.

Dengan membuka pikiran, mata, telinga kita masih bisa melakukan hal baik untuk lingkungan dimulai dengan menjadi “manusia”.

Please follow and like us:
error20

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *